TIPS MENGATUR KEMARAHAN ANAK


Anak Anda kehilangan uang jajannya, dan tiba-tiba Anda membatalkan untuk mengajaknya ke taman bermain karena ada keperluan mendadak. Hmmm…jadi dia pun marah dan membanting mainannya, melemparnya ke dinding, bahkan melempar benda keras pula (seperti batu) kemana-mana. Wow…jika itu terjadi berarti Anda harus terus membaca artikel di bawah ini, hehehehehehe…
Anda mungkin terkejut seakan-akan jantung Anda berhenti berdetak, dan mulai bertanya dalam hati…Apakah dengan terbiasa mengekspresikan kemarahan seperti itu akan membuat anak menjadi individu yang penuh kekerasan ketika dewasa?? Mungkin, bisa iya, bisa tidak…Hmmm…namun kemungkinan besar iya.
Mengekspresikan emosi (marah) adalah sesuatu hal yang normal, dan anak-anak memang membutuhkan pelampiasan/ pelepasan secara fisik atas apa yang mereka rasakan. Tentunya dalam hal ini dibutuhkan adanya pendampingan dari orang tua agar ekspresi kemarahan anak dapat diarahkan ke hal yang lebih baik, atau setidaknya tidak mengarah pada tindakan yang buruk.
Nah…berikut ada beberapa Tips Asuhan Cerdas untuk Mengatur Kemarahan Anak, cekidot :  

  1. Ajak anak Anda untuk jalan mengelilingi ruangan yang cukup luas, bisa ruang tamu, ruang keluarga, atau mungkin teras rumah, dll kurang lebih 40-50 putaran. Libatkan anak dalam menghitung jumlah putaran, hal ini diharapkan mampu mengalihkan perhatian anak dan membuatnya cukup lelah untuk melakukan tindakan yang buruk.
  2. Minta anak masuk ke dalam ruang tertutup yang cukup luas, bisa kamar mandi, loteng, basement (kalau ada). Eits…ini tidak bermaksud untuk mengunci anak di dalam ruangan lho, melainkan anak diminta berteriak yang cukup kencang di dalam ruangan untuk melepaskan kemarahannya. Dan juga ketika berteriak kencang di dalam ruangan tertutup setidaknya tidak terdengar dan tidak membuat panik anggota keluarga yang lain maupun tetangga sebelah.
  3.  Menggoda anak Anda dengan candaan kecil, seperti menutup dan membuka wajah Anda dengan telapak tangan (cilukba) atau yang biasa Anda gunakan ketika santai dan bercanda dengan anak. Diharapkan hal ini akan mengalihkan kemarahannya menjadi ekspresi tertawa.
  4. Membuang barang-barang yang sudah tidak terpakai di tempat sampah, atau tempat pembuangan lainnya. Ekspresi emosi tetap dilakukan oleh anak, namun tetap terarah ke hal yang lebih baik.
Baiklah…di atas adalah contoh aplikasi kecil dari sekian banyak cara untuk mengatur kemarahan anak. Ekspresi kemarahan anak tentu berkaitan juga dengan perkembangan motoriknya, kita sebagai orang tua tentunya harus mampu mengarahkan kemarahan anak ke hal-hal yang positif dengan harapan seiring berkembangnya kemampuan logika anak akan membuat anak lebih mengerti bagaimana dia harus mengekspresikan emosinya, tentunya dalam hal ini adalah kemarahan.
Semoga artikel singkat ini bermanfaat untuk para pembaca, dan apabila ada hal yang belum saya ketahui, mohon sekiranya bersedia menyumbangkan pengetahuan dan pengalamannya disini :)